Monday, December 24, 2012

Merry Christmas...

Please check out my photo. Check out this application: https://market.android.com/details?id=com.roidapp.photogrid Sent from my Android.

Wednesday, November 28, 2012

Kuliner Bandung (Part 4)

Perjalanan saya menuju Bandung kali ini penuh dengan perjuangan. Bayangkan saja 5 jam perjalanan dari Jakarta - Bandung dikarenakan ada kecelakaan beruntun antar truk di KM 44 mengakibatkan kemacetan panjang sampai denan KM 20. Belum lagi hujan yang sangat deras di tol Cipularang setelah jatiluhur yang menyebabkan saya harus menendarai mobil dengan extra hati-hati. Belum lagi banjir di tol Bandung menuju pintu keluar tol Pasir Koja yang juga membuat kemacetan sekitar 2 kilometer. Bagaimanapun saya anggap itu perjuangan demi mendapatkan kenikmatan lidah dan rasa :)

Kali ini saya menginap di sebuah hotel baru di kawasan Jalan Braga, namanya Gino Ferruci Hotel  yang merupakan salah satu brand dari Kagum Group. Saya cukup kagum juga dengan jaringan hotel mereka di Bandung. Hotel ini jau lebih besar dibanding Zodiac hotel yang sebelumnya saya tinggali, karena memang sepertinya hotel ini tidak masuk dalam kategori Budget hotel walalupun saya mendapatkan harga yang tidak terlalu jauh berbeda.

Ini Lobbynya, luas dan nyaman
Kamarnya nice

Menurut saya, hotel ini cukup oke. Point plusnya adalah :
- Baru
- Bersih
- Breakfast yang cukup lengkap
- Ranjang & bantalnya kualitas baik
- Lokasinya tepat di kawasan jalan dan wisata Braga

Namun kekurangannya :
- Finishingnya jelek (banyak bagian dikamar saya yang masih belang-belang semen
- Lift nya cuman 2 untuk kapasitas 17 lantai
- Lantai kamar mandinya kotor  berkerak (mungkin yang ini hanya di kamar saya saja, karena kebetulan saya dapat di lantai paling atas yang mungkin jarang digunakan)
Lantai kamar mandi

Baiklah, cukup menggambarkan hotel saya, saatnya ke pokok masalah.. makanan!!

1. Nasi Campur 88 (Siang-Siang) #NonHalal
Nasi Campur + Sayur Asin Bakut
Yang ini favorit saya saat ini, sudah pernah saya bahas sebelumnya, namun dengan senang hati saya kembali. Kali ini tambahannya saya coba bakut sayur asinnya. Rasanya enak dengan daging yang empuk dan tingkat keasaman sayur yang pas. Tidak pernah mengecewakan

2. Toko You 
Restoran tanpa plang nama ini terletak di sampingnya Rumah Sakit Boromeus. Yang belum pernah kesini sih akan cukup membingungkan untuk mencarinya karena gak ada plang nama atau petunjuk arah. Namun sebagai gambaran, bentuk dari resto ini mengambil suasana Bali, pintu masuknya menggunakan pintu tradisional bali dengan tanaman-tanaman yang khas.

Suasana di Toko You

Makanan yang saya coba adalah Yamien manis dengan Bakso. Katanya ini adalah yaang spesial karena mie nya merupakan hasil buatan sendiri yang sudah sejak lama dipasok ke beberapa restoran mie. Tapi menurut saya sih rasanya bukan salah satu yang terbaik di Bandung, masih kalah jauh dengan bakmi Naripan, bakmi Rica atau Bakmi Acai. Baksonya juga seperti bakso 'pasar' yang lebih banyak rasa terigunya.

Yamien Ayam + Bakso Toko You 
Minumnya saya pilih jus alpukat yang di blend dengan kopi.. penampilannya memang standar tapi rasanya... passss dan maknyusss...
Avocado with Coffee

3. Sate & Gulai Kambing H.M Haris 
 Warung sate ini letaknya di jalan Asia Afrika. lebih tepatnya lagi di belakang pos polisi Asia Afrika. Menyajikan hanya menu Sate & Gulai kambing, namun warung yang satu ini cukup dikenal dan ramai apalagi      warung ini buka 24 jam.


Sate Kambingnya disajikan diatas hotplate membuat kondisi si kambing tetap panas, namun hati-hati nanti gosong, terutama kalau anda pesan satai dengan lemak. Dagingnya cukup empuk dan enak walaupun mungkin kambingnya gak muda-muda banget..
Sate Kambing H.M Harris - tanpa lemak
Kalau Gulainya, jujur saya kurang suka, dagingnya sih empuk, namun rasa kuahnya sedikit condong ke rasa manis.
Gulai Kambing H.M Harris
4. Kopitian Oey - Braga
Karena saya tinggal di hotel kawasan Braga, maka malam hri tentunya saya tidak mungkin melewatkan berjalan-jalan dan merasakan suasana Braga yang terkenal itu. Braga saat ini mulai berbenah, mulai nyaman. nah kali ini saya mampir ke warung punyanya pa Bondan Winarno yang ada di Bandung. Agak kenyang sebenarnya waktu saya mampir, jadi saya hanya memesan kopi dan ditemani roti prata komplit dengan topping coklat, keju dan pisang.
Roti Prata komplit
Biasanya sih saya makan roti prata dengan kuah kari atau isi telur, jarang saya makan roti prata dengan topping manis. Rasanya sih menuriut saya standard saja, roti pratanya agak keras, kurang maknyussss..

5. Lontong Sayur Kebon Karet - The Kiosk Setiabudi Supermarket
Yang ini juga cukup terkenal di Bandung, saya berkesempatan mencicipi yang berada di foodcourt The Kiosk di Setiabudi Supermarket.

Lontong Sayur - Kebon Karet 
Rasanya sih biasa saja menurut saya, lontongnyapun kurang legit, karena ketika digigit berasa sekali berasnya berpencar. Ada pilihan daging ayam atau sapi, namun pada saat itu daging ayamnya habis, jadi mau gak mau deh ketemu si sapi lagi.

6. Pempek Rama - The Kiosk Setiabudi Supermarket
Pempek Rama 
Tidak terlalu banyak komentar, rasanya standar saja seperti pempek kapal selam yang lainnya.


hmmm... pulang ke Jakarta dengan perut kenyang dan hatipun senang..


More post : http://www.kompasiana.com/perano




Tuesday, November 20, 2012

Fajjitas.. Nachos.. Burritos.. Adios!!

Walaupun jarang banget kesini dan juga gak begitu banyak pilihan, namun Senayan Arcadia cukup menarik untuk dikunjungi terutama buat yang mau makan aau ngafe. Gak banyak sih memang isinya, tapi boleh lah dicoba.. 

Kali ini cobain makanan khas mexico, namanya Hacienda.. kalau denger nama itu sebenernya inget iklan jeans jaman dulu yang dibintangi oleh artis terkenal Indonesia (pada jamannya) hehe.. 

Menunya berisi nama-nama khas mexico, gak ngerti bahasa nya gapapa kok, di menu juga dijelasin apa isi dari makanan tersebut. misalnya yang satu ini.. yang ini namanya Burritos (139K) Fajitas yang diisi dengan kacang merah, nasi, daging sapi, keju, cream, gak lupa ditambah dengan jalapenos. Side dish nya salad standar. 

Agak kaget sih buat saya pertama kali makan ini, karena bumbunya cukup strong dan rasanya juga cukup kuat. Secara keseluruhan cukup oke. 

Burritos



 Nah yang ini namanya Fajjitas De Polo (129K) isinya sebenernya sama aja sama yang diatas, bedanya yang ini gak dibungkus, dan yang ini isinya daging ayam.. kenapa pesennya sama? karena gak ngerti!! hehe..
Fajjitas De Polo

Sebelum kita pesen makanan, kita juga di sajikan nachos yang bisa dinikmatin secara free.. Suasana di dalam resto sih sebenernya menyenangkan, apalagi di hari-hari tertentu terdapat live show lagu-lagu khas mexico. Boleh lah untuk yang mau cari suasana lain..



Ootoya.. the authentic..

Terakhir kali ke Pacific Place, agak bingung mau makan apa.. Akhirnya pilih Ootoya.. restoran yang terletak di lantai 5 ini memiliki dekorasi yang simpel dan minimalis. Ceilingnya agak tinggi menyebabkan kesan luas di restoran ini. 

Menu yang ditawarkan merupakan Japanese Food, mulai dari sushi, soba dan kawan-kawannya. Walaupun tagline nya menyebutkan The Authentic Home Cooked Japanese Food, namun banyak juga kok menu-menu yang sudah cukup fushion dan beraneka ragam. 

Pilihan saya kemarin adalah Kimuchi Nabe (108K) Soup dengan topping daging sapi, telur, tofu dan kimchi. Rasanya sedikit pedas, namun cukup enak dan pas di lidah.



Kimuchi Nabe (108K)

Menu yang kedua, saya pilih yang benar-benar otentik dari Jepang, yaitu Hokke (135K) ikan macarel yang di bakar dan disajikan dengan side berupa acar dan miso soup tak lupa nasi putih sebagai pelengkap. Ikan yang disajikan kabarnya di impor langsung dari Jepang. Rasanya enak banget, lembut dan gak bau amis. Rasanya juga menurut saya sangat otentik dengan ikan bakar yang pernah saya makan waktu saya ke Jepang. Sangat recomended walaupun harganya cukup menusuk :) Oya, nasinya disini juga bisa refill jadi kalau belum kenyang bisa tambah terus (nasinya) :)

 Hokke (135K)
 Pelengkap makan saya kali itu adalah Unagi Roll (68K), yang ini sih menurut saya biasa saja rasanya, walaupun unagi nya jauh lebih tebal di banding yang biasa saya makan di restoran sekelas Sushi Tei. Harganya juga cukup mahal untuk ukuran 4 potong sushi roll.


Secara keseluruhan sih sebenanrnya cukup memuaskan, recomended namun secara harga cukup mahaalll..

Tuesday, October 16, 2012

Kuliner Bandung (part 3)

hallohhh cemuanya??

macih cumungudh?? akooh punya gudnyus nih,.. kemaren akooh jalan-jalan lagi ke Bandung.. nyobain lagi makanan-makanan baru... 

ciyus.... mieapah dehh...

hehehe... tenang aja, selanjutnya tulisan ini gak akan pake bahasa " cape" kayak gitu kok.. biar kayak anak gaholl aja di pembukaan :) 

kamar Zodiac Hotel
Kemaren sempet jalan-jalan lagi ke Bandung.. nginepnya di budget hotel namanya Zodiak hotel, di jalan pasir kaliki. lokasinya enak tengah kota kamarnya juga cukup besar, bersih. Zodiak hotel ini adalah salah satu hotel baru dari KAGUM Group yang merupakan salah satu grup pengembang hotel yang cukup terkenal di bandung. Kurangnya dari hotel ini menurut saya adalah dari sisi sarapannya. Untuk hotel budget, saya juga tidak mengharapkan buffet breakfast yang mewah, cukup yang simpel namun tetap rasanya harus enak donk.. nah, untuk ukuran rasa ini, makanan untuk sarapa di sini saya masukan dalam kategori tidak enak.. selain itu, kamar mandinya juga kecil banget, padahal masih banyak space yang terbuang. mungkin ukuran kamar mandinya sudah standard dikarenakan kamar mandinya terbuat dari fiber yang nampaknya sudah jadi :) 


Mie Rica Kejaksaan
Tujuan kuliner saya yang pertama di bandung adalah Mie Rica di Jalan Kejaksaan (non halal). Sekarang sih mulai banyak berjamur mie rica- mie rica lain, namun tetap saja yang ini yang paling terkenal enak. Kalau mau kesana jalan Kejaksaan ini tidak terlalu besar, saran saya adalah masuk dari jalan Braga. Mie Rica Kejaksaan ini salah satu mie yang mengandung daging babi, walaupun di menunya ada mie / bihun ayam, tapi tetap mengandung babi yaa.. 

Saya pesan mie rica babi dengan bakso dan babat. karena saya tidak terlalu maniak pedas, saya minta daging ricanya dipisah. untuk tambahannya saya juga pesan pangsit goreng. 
Mie Rica Babi (manis) pedas - daging rica dipisah. tambahannya bakso babat

Mie Rica Babi (asin) pedas
Soal rasa, saya bisa bilang enak.. apalagi buat penyuka pedas.. mie nya bulat lebih mirip spaghetti dibanding mie keriting biasa, rasanya juga kenyal dan nikmat. Daging ricanya bisa dipilih babi atau ayam. Bakso, babat dan kuahnya juga bisa dibilang enak. Salah satu ciri khas bakmie di andung itu biasanya tersedia babat yang tidak di "putih" kan.. jadi bentuk babatnya masih sedikit menjijikan namun rasanya enak :)  Seporsi bakmi rica - bakso babat adalah Rp. 26.000. cukup sesuai dengan kualitas dan kuantitasnya..

Sementara pangsit gorengnya sih buat saya tidak terlalu enak.. kulitnya keras.. daging dalamnya campuran udang dan daging agak tercium bau kurang enak.. masih jauh dari pangsit gorengnya bakmi Gajah Mada :) Seporsi pangsit goreng isi 10 harganya Rp. 24.000. kali itu saya pesan 1/2 porsi (untungnya tidak pesan 1 porsi karena saya kurang menyukainya)
Pangsit Goreng 1/2 Porsi

Le Marly Pantry
Next Stop adalah Le Marly Pantry.. resto dengan konsep dekorasi menarik di kawasan Jln. Citarum ini menyajikan western food.. mulai dari Pizza, pasta, Crepes, Sandwich, Steak, dan kawanannya.. Secara tampilaan sebenarnya resto ini cukup menarik, namun saking banyaknya konsep resto seperti ini di bandung, saya jadi merasa biasa saja ketika masuk ke sini.. konsepnya seperti open kitchen bohong-bohongan di dukung lampu kuning dan sofa-sofa.. biasa saja sih untuk ukuran resto di bandung..

Untuk makanannya sendiri tentunya biasa saja sih, maka dari itu saya coba makanan yang "universal" dari restoran ini yaitu pizza.. "Bianchi Ruso Pizza" yang saya pilih ini terdiri dari sosis, smoke beef, mushroom, paprika dan tentunya cheese.. Rasanya standar banget sih.. apalagi topingnya peliiiittt sekali... satu bulatan pizza ini terdiri dari 8 slice.. begitupun sosis dan smoke beef nya.. hanya ada 8 potong saja.. astagaaaa... pelit bangetttttt.. ditambah keju yang juga sedikit, parprika sedikit.. mungkin ini termasuk dalam pizza tipis dalam arti sebenarnya.. :) 
Kesan pertama yang tidak terlalu menggoda ini membuat saya mengurungkan niat untuk memesan ke tahap selanjutnya..
Bianchi Ruso Pizza

Dulu waktu saya sekolah di Bandung, nasi campur (non halal) merupakan salah satu pilihan populer untuk kuliner. Yang terkenal dulu adalah nasi campur di jalan Kelenteng. namun terakhir saya kesana rasanya sudah tidak seperti yang dulu, selain dagingnya mulai sedikit, kualitas rasanya pun sudah menurun. Teman saya kemudian menyarankan untuk mencoba Nasi Campur 88 (Siang-Siang) yang letaknya di jalan Cibadak. Katanya sih sekarang si Siang-Siang ini merupakan salah satu yang paling enak di Bandung.

Nasi Campur 88 (Siang-Siang)
Waktu saya datang sekitar jam 9 an, antriannya sudah ramai sekali. Pertama kali kita diharuskan mengambil nomor antrian dan menyebutkan pesanan kita ke Mbak yang bertugas. Tugas selanjutnya adalah mencari meja dan kursi kosong yang tidak mudah dikarenakan banyaknya orang yang antri.

Mungkin sambil menunggu tidak ada salahnya kita memesan minuman / jus di lapak sebelah. Tidak terlalu lama akhirnya pesanan nasi campur saya hadir juga. dilihat dari tampilannya sih sangat menggugak selera, daging merah, samchan, bakso goreng dan kawan-kawannya memenuhi piring saya sampai menutupi nasi yang berada dibawahnya. Di meja tersedia aneka ragam saus mulai dari saus merah, kecap asin, kecap cengek (cabe rawit potong yang di rendam di kecap asin), sambal yang bisa kita gunakan sesuka hati sesuai selera. 
Nasi Campur 88 -(Siang-Saing)
Rasanya damn good! sebagai penyuka nasi campur, saya setuju bahwa ini adalah Nasi Campur seharga Rp. 30.000 ini yang paling enak yang pernah saya makan, sampai saat saya menulis ini, saya masih membayangkan nikmatnya dan masih menginginkannya lagi... Saya masukkan si Siang-Siang ini menjadi salah satu list teratas yang wajib saya kunjungi di Bandung!

Padma Hotel Bandung
Buat saya, makanan di restoran di sebuah hotel itu bukan salah satu prioritas buat kunjungan, namun teman saya mengaja saya untuk mengunjungi "The Restaurant" yang terletak di Hotel Padma Bandung. Yang buat saya tertarik adalah katanya hotel ini bagus sekali.. Letaknya yang berada di daerah tinggi memungkinkan conture hotel ini menjadi menarik. 

The Restaurant ini sepertinya adalah resto yang biasa digunakan untuk buffet menu atau breakfast, namun juga mereka menyediakan menu a la carte. Karena tidak mau makan terlalu banyak ala buffet, maka saya putuskan untuk memesan beberapa menu a la carte nya. Menu yang pertama adalah 3Cheese Chicken Cordon Bleu. Daging ayam bagian dada yang di isi dengan 3 jenis keju, disajikan dengan potongan potato wadges dan sedikit salad sebagai garnish.. 
3Cheese Chicken Cordon Bleu
Tampilannya yang menggugak selera didukung pula dengan rasa yang juga enak.. favorite saya? potato wadges dan salad nya.. hehe... potato wadgesnya digoreng dengan sempurna, garing namun tetap moist di dalamnya. untuk saladnya walaupun sedikit, namun saucenya cukup menyegarkan. Cordon Bleu ini di bandrol seharga Rp. 98.000 (belum termasuk tax & service hotel).
Spaghetti Alfreddo

Black Sesame Green Tea
Menu yang kedua saya pesan adalah Spaghetti Alfreddo dengan pork bacon (tersedia pilihan beef bacon). Tidak ada yang beda dari tampilannya hanya saja spaghetti dengan cream ini ditambahkan kuning telur mentah diatasnya.. hm... yang kurang suka mungkin bisa request tanpa egg yolk. Ketika masih panas dan langsung dicampur mungkin rasa egg yolk ini mendukung dari creammynya si spaghetti ini, namun lama kelamaan sih saya mulai merasakan bau-bau kuning telur mentah yang jujur saja saya kurang suka. Sebenarnya rasa spaghetti ini cukup enak. Harganya Rp. 88.000 (belum tax & Service).

Untuk minumannya saya pilih Cappuchino (Rp.38.000) dan Black Sesame Green Tea (Rp.50.000). Kalau Capuchinonya sih standard saja ya, disajikan dengan gula merah dan cookies (yang ini bau kuning telur yang menyengat sehingga teman saya pun tidak sanggup untuk memakannya). namun Black Sesame Green Tea nya cukup enak dan recomended.


Menutup kuliner Bandung saya kali ini, saya mengunjungi sebuah Rumah Makan Sunda bernama "Alas Daun" lokasinya di Jalan Citarum tidak jauh dari Le Marly Pantry. Begitu masuk suasana tradisional sundanya sudah terasa. Setelah memilih tempat duduk, kita diajak kebagian belakang resto untuk memilih makanan apa yang ingin kita pesan. Makanan sudah di tata berjejer tinggal ditunjuk dan dipesan mulai dari ayam goreng, ayam bakar, ikan, sayur, pepes, dan lain sebagainya. Sayangnya tempat pemilihan makanan ini kok ya banyak sekali lalatnya, padahal jejeran makanan itu terbuka dan tidak ditutupi apa-apa. Jadi agak ragu dengan kehigienisannya.
Tempat pilih menu - Alas Daun
Kalau udah pilih menu, tinggal duduk manis deh nunggu makanannya di masak. Di meja kita akan langsung di suguhkan selembar daun, sebelumnya teman saya mengira itu hanya sebagai hiasan atau alas untuk piring, padahal ternyata daun itu digunakan sebagai "piring" beneran. Ohhh.. ternyata ini yang dimaksud dengan tagline  "Sensasi Makan Tanpa Piring" dari restoran ini.Teman saya yang terlanjur menyimpan handphone, dan barang-barang lainnya diatas daun terpaksa harus meminta ulang.

Alas Daun
Nasi putih langsung disajikan diatas daun ketika makanan sudah tersaji di atas meja. Pelayan kemudian menanyakan apakah mau mencoba kuah Rendang dan kuah Cumi sebagai pelengkap dari makanan kami. Secara keseluruhan, rasa masakan sunda direstoran ini biasa saja, bahkan menurut saya cenderung hambar. Namun untuk harganya saya rasa cukup murah. Untuk 3 nasi putih(boleh tambah), 2 ayam goreng, 1 paru, 1 babat, 1 tempe mendoan, 1 tumis jamur, 1 tumis genjer, 1 lalap & sambal, 2 sambal total menghabiskan Rp. 77.000 saja. 

hmmm... pulang ke Jakarta dengan perut kenyang tentunya hati juga senang... 

Ciyuss?? Mieapah??... jawab saya... Mierica!! #garing

Tuesday, October 9, 2012

Angke... food only.. eat and go!

Kata orang, restoran yang menyajikan chinesse food yang enak itu biasanya tidak punya dekorasi yang bagus. Mungkin itu juga yang diadopsi oleh Restoran Angke, restoran yang terkenal seantero jagad Jakarta dan luar daerah khususnya bagi yang ingin mencari chinesse food dengan kualitas dan rasa yang baik.

Restoran Angke yang saya datangi yang terletak di kawasan Kota (Gajah Mada), restoran yang terletak di kawasan ruko ini memang tidak menampakan dekorasi, tipikal restoran yang mementingkan rasa dibanding penampilan ruangan.

Soal rasa makanan, tidak perlu diragukan lagi, rasanya enak, penuh dengan keharuman khas chinesse food. Untuk informasi,  restoran ini masuk dalam ketegori non halal.

Kali itu saya mencoba :

Gurame Asam Manis

Babi Hong

Cap Cay Ayam

Sapi Lada Hitam
Semua rasa makanannya tidak ada yang mengecewakan.. Porsinya pun cukup besar untuk dimakan 1 keluarga ( 4-6 orang).. walaupun saat itu sih kami menghabiskannya bertiga.. luar biasa kenyangg....

Wednesday, August 29, 2012

Korean Buffet Resto

Alkisah suatu hati saya terdampar di kawasan Lippo Karawaci.. maka tibalah saya di Supermall Karawaci untuk menghabiskan waktu sambil menghapus perasaan lapar dan dahaga ini..

Di suatu perempatan pojok saya menemukan sebuah restoran bernama FoodPlus, korean buffet restoran.. begitu dia menyebutnya. dari etalase yang ada dibagian depan restonya sih cukup menarik walaupun suasana restorannya seperti restoran fast food biasa.. apalagi namanya, gak ada Korea-Korea nya sama sekali..

Lets try lah..
Ada beberapa paket yang ditawarkan di sini.. paket nasi + 4 macam sayur seharga Rp. 25.000 atau nasi + 6 sayur seharga Rp. 31.000. Sayur atau daging bebas pilih.. tinggal tunjuk dari deretan masakan yang disajikan..

dipilih-dipilih

Tips : Bagian Daging-Dagingan secara pandai ditempatkan di bagian ujung / terakhir.. jadi jangan terjebak sudah memilih masakan dibagian awal.. atau anda akan menyesal di kemudian. Lebih baik, lihat dulu semua jajaran makanan yang tersedia baru memilih

Nah, karena saya bertiga, dengan komposisi 2 pria dan 1 wanita.. maka kami memutuskan untuk mengambil 2 paket dengan masing-masing 4 sayur.. kemudian di tambah 1 nasi putih saja.. maka beginilah hasilnya .... saking gak mau rugi, isinya hanya 2 sayuran sisanya daging dan seafood..

Thadaaaaa!!! mari makan

Porsi dari masing-masing jenis tidak terlalu banyak, memang sebenarnya di ciptakan untuk dimakan oleh satu orang saja di setiap paketnya.. rasanya menurut saya juga biasa saja, memang ada sedikit rasa korea terutama di beef bulgogi, soun goreng khas korea dan cumi masak cabai rasa korea.. sisanya sih seperti masakan biasa saja.. mungkin memang sudah disesuaikan dengan lidah orang indonesia..

Paket pertama : ayam, telur puyuh, beef bulgogi dan soun goreng
Paket kedua : Udang goreng tepung, cumi cabai, tahu isi daging,dan teri kacang

hmm... buat yang mau coba, gak ada salahnya.. nilainya menurut saya? 6 / 10

Waraku



Chicken Teriyaki Ramen..
  
Porsinya sebenernya biasa aja.. cuma mangkoknya bowwww... segede kolam renang buat bayi :) 
Mie ramennya keriting membuat ia nampak seperti mie instan.. Kuahnya spicy tapi gak pedes-pedes amat.. cukup lah.. keseluruhan rasanya... hm... so so aja... 
Chicken Teriyaki  Ramen - Spicy


Beef Yakiniku Don


Tersedia ukuran Mini dan Reguler.. yang ini Reguler.. porsinya pas.. daging sapinya enak, lembut dan cukup banyak.. rasanya saya lebih suka beef originalnya Yoshinoya.. maaf..

Beef Yakiniku Don
Ishiyaki Chige Ramen 

Yang ini kayaknya salah satu andalan, porsinya cuman 1 ukuran aja karena disajikan di mangkok batu panas.. topping isinya seafood dengan telur setengah matang.. kuahnya lebih kental dibanding ramen yang satunya lagi.. rasanya... oke!
Ishiyaki Chige Ramen
Keseluruhan.. Waraku de Gohan ini hanya oke.. untuk kembali lagi, hmm.. someday if i have no option :)

Monday, August 6, 2012

Ohhhh Holycow!!

Terus terang saya agak tertinggal untuk mencicipi resto yang satu ini, walaupun sudah sering denger baik dari social media (yang merupakan senjata andalan promosi mereka), dari liputan televisi, dan dari mulut ke mulut, tapi baru kemarin saya sempet berkunjung ke tempat nya para karnivora ini.. Carnivores!! ya begitulah mereka menyebut para customers nya..

Oke Carnivores! kita mulai dengan suasana di ruang tunggu (dokterrr kali pake ruang tunggu). Tidak terlalu lama saya berada di waiting list, kira-kira 15 menit saya harus menunggu, mungkin karena kebetulan saya berkunjung kesana pukul 14:00 jadi sudah lewat waktu makan siang.. Ruang tunggu nya cukup lah, disediakan kursi dan tenda untuk menghindari sinar matarhari.



Di depan resto, kita dihadapkan dengan dapur terbuka, dimana semua menu dimasak disini.. Saya sih tidak terlalu suka dengan konsep dapur di depan dekat dengan jalan raya, ngebul, berdebu, dan kita bisa melihat beberapa lalat yang berterbangan.. hmmm..

Begitu masuk ke dalam resto, saya mulai kehilangan impresi.. sebenarnya suasananya cukup oke, nuansa merah baik di dinding maupun pada gantungan lampu cukuplah. Namun kursi dan meja makan di resto ini membuat saya kehilangan selera.. Dengan bangku dan kursi plastik (made in Ace Hardware) menurut saya kurang layak berada di dalam sebuah resto. Mungkin memang pemiliknya ingin menonjolkan makanan dibandingkan dengan meja dan kursi.. tapi tetap saja.. kesan pertama itu berpengaruh pada pengalaman selanjutnya.

Menu yang disajikan disini terutama adalah steak.. andalannya Wagyu beef dengan harga yang terjangkau.. Wagyu sendiri adalah daging sapi yang katanya luar biasa empuk karena proses perawatan yang rumit sehingga katanya meleleh dimulut..


Untuk hitungan steak dengan daging wagyu, memang bisa dikatakan harga holycow ini termasuk murah.. namun tunggu dulu, harga biasanya juga menentukan prestasi.. Jadi sebelum menyimpulkan mari kita rasakan terlebih dahulu..Kali itu saya memesan 3 jenis steak (heyy!!! tidak saya makan sendiri ya!!!) Wagyu Sirloin (200 gr), Wagyu Rib Eye (200 gr) dan Rib Eye Big Bites (400gr) semuanya dengan homemade mushroom sauce (chef recomendation)
Wagyu Rib Eye (200 gr)


Wagyu Sirloin (200 gr)

Rib Eye Big Bites (400gr)


Mari kita simpulkan.. Ini semua menurut saya loh yaaaaa... :)

Satu... daging sapi wagyu yang katanya lembut dan meleleh dimulut itu dusta.. hehehe... saya sih merasa mungkin karena potongan dagingnya terlalu tipis? mungkin akan lebih baik jika potongan dagingnya dibuat lebih tebal namun tidak terlalu lebar (tetap 200 gram namun beda bentuk jadi gendut bukan pipih).. Rasa daging wagyu dibandingkan rib eye big bites yang bukan wagyu sama saja tingkat kekenyalannya..

Kedua... homemade mushroom sauce (chef recomendation) nya agak encer, berasanya creamy seperti soup.. sayang saat itu saya tidak mencoba saus yang lainnya.

Ketiga... Saya kurang suka rasa daging steaknya sendiri, buat saya terlalu banyak peper sehingga rasa pedas nya terlalu menyengat.. biasanya kan kalau steak itu dagingnya dibakar dengan sedikit bumbu garam dan lada saja, kalau yang ini rasa pepernya mengalahkan rasa segalanya..

Keempat.. kentang gorengnya oke, namun kacang panjang yang dimasak tumis dengan bawang putih sedikit membuat bingung... makan steak di resto chinese? :)

Kelima.. untuk porsi dan harga sebenarnya sesuai.. apalagi untuk wagyu steak, memang bisa dikatakan murah..

Total harga yang harus saya keluarkan kemarin adalah  Rp. 372.075 untuk 3 porsi steak ukuran cukup besar...

So, overall menurut saya sih holycow is so so cow lahh..